SOE HOEK GIE (Aktivis Mahasiswa Angkatan 66)

0 komentar

Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: IIdapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasakan kedukaan." Tanpa itu semua maka kila tidak lebih dari benda mati. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai ini. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita. (Catatan harian SHG, 16 Desember 1961).

Soe Hok Gie lahir pada momentum yang tepat, mampu ambil bagian sehingga membuat namanya abadi. Kisahnya menjadi inspirasi gerakan mahasiswa hingga empat dekade setelah kematiannya.

Soe lahir di Kebon Jeruk, Jakarta, 17 Desember 1942. Ia dibesarkan di rumah kedl bersama orangtuanya.
27 tahun kemudian, jenazahnya diberangkatkan ke pemakaman dari rumah temp at ia lahir. Bersekolah
di Kanisius, sekolah elite di mana anak-anak kaya menuntut ilmu, Soe yang miskin makin peka.

Soe pandai membaca sejak dini. Ketika masih di bangku pendidikan dasar, Soe mulai membaca karya sastra serius, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer. Tulisan Sutan Sjahrir yang berjudul Renungan Indonesia menarik perhatiannya dan mendorong ketertarikannya pada Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibentuk Sjahrir.

Bulan September 1961 Soe diterima di Fakultas Sastra Jurusan Sejarah. Masuknya Soe ke universitas dan partisipasinya dalam komunitas intelektual menambah dimensi baru bagi kesadaran politiknya.

Maret 1963, Soe masuk dalam kepemimpinan pusat LPKB (Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa) yang kemudian berganti nama menjadi Lernbaga Pernbinaan Kesatuan Bangsa. Selarna dua tahun berikutnya,
Soe aktif di seksi perencanaan dan penelitian lembaga ini. Ia pun ditunjuk sebagai anggota redaksi Celora Minggu, sebuah terbitan mingguan yang diterbitkan yayasan swasta untuk mendukung LPKB.

Organisasi ini mengantar Soe bertemu Soekarno, 22 Februari 1963. Perternuan yang begitu memuakkan
dan menambah kebencian dalam dirinya. September 1964 Soe rneraih gelar sarjana muda dengan skripsi berjudul Di Bawah Lentera Merah, Riwayat Sarekat Islam 1917-1920. November 1964, Mapala Fakultas Sastra VI terbentuk, dan Soe menjadi bagian di dalarnnya. Dinihari 30 September 1965, Soe dan teman-teman Mapala-nya rneninggalkan Jakarta menuju Jawa Tengah untuk hiking ke Merapi, ketika Gerakan 30 September terjadi.

Beberapa hari kemudian ia baru mengetahui, kelompok kiri telah berusaha melakukan kudeta. Saat Soe kembali ke Jakarta, ibukota benar-benar telah bergolak. Diperparah dengan kenaikan harga bahan bakar,
tarif bus dan kereta api, demonstrasi tidak bisa ditahan. Korban pun jatuh. Dua orang demonstran tewas: Arief Rachman Hakim, mahasiswa kedokteran DI tingkat empat, dan Zubaedah, pelajar sekolah menengah.

Soe murka. Peristiwa ini memperkuat tekadnya untuk terus melawan meski nyawa harus melayang. lni adalah point of no return. Soe Hok Gie pun menjadi bagian tak terpisahkan dari gelombang demonstrasi mahasiswa 1966 yang mengajukan Tritura.

Ketika Soekarno akhirnya turun tahta dan Jenderal Soeharto dilantik menjadi Presiden RI, gerakan mahasiswa mengalami cooling down. Tapi Soe Hok Gie tidak. Ia cermat mengamati bagaimana sepak terjang rezim yang baru itu. Sepanjang tahun 1967, Soe merangkum sepak terjang reformasi ala Soeharto dalam lebih dari 30 artikel. Beberapa tulisannya di paruh kedua tahun itu merupakan hasil analisis yang sangat mengagumkan dari kemampuan Soe Hok Gie mengangkat persoalan sulit dan janggal mengenai arah politik Orde Baru. Dialah orang pertama yang skeptis terhadap masa depan negara di bawah Orba. Tanggal 16 Desember 1969, enam hari sebelum ulang tahunnya ke-27, Soe meninggal setelah menaklukkan Semeru, akibat semburan gas beracun.

Soe pernah mengekspresikan rasa irinya kepada mereka yang mati muda. Mereka yang mati muda tak sempat kehilangan idealisme. Mereka yang mati muda akan tetap muda selamanya. Dan ia pun mengalaminya.
Share this article :
 
TEMPLATE ASWAJA| Success = Dream x Work x System - All Rights Reserved